INFO TEKNOLOGI

Plant Growth Chamber Bantu Peneliti Pertanian Kontrol Iklim

Laporan J. Totok Sumarno | Rabu, 15 Januari 2020 | 13:38 WIB
Berdiskusi didepan Plant Growth Chamber karya Dosen Universitas Narotama (Unnar) Surabaya. Foto: istimewa
suarasurabaya.net - Moh Noor Al Azam, S.Kom.,M.MT, Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Narotama, ciptakan Plant Growth Chamber membantu peneliti pertanian melakukan kontrol pada iklim.

Peneliti di bidang pertanian membutuhkan waktu dan biaya yang besar ketika melakukan penelitian yang berkaitan dengan iklim dan area tertentu. Hal itu disebabkan karena mereka harus mencari lokasi yang pas untuk melakukan riset sesuai kebutuhan data.

Dosen yang biasa disapa Azam tersebut bekerjasama dengan Fakultas Pertanian dan Peternakan untuk membuat sebuah lemari yang lingkungan di dalamnya bisa diatur sedemikian rupa sesuai kelembaban, temperatur, dan intensitas sinar matahari buatan yang dibutuhkan oleh peneliti di bidang pertanian. Lemari tersebut diberi nama Automatic Plant Acclimatization Chamber (APAC).


(Plant Growth Chamber karya Dosen Universitas Narotama Surabaya membantu penelitian bidang pertanian. Foto: Istimewa)


"APAC dibuat sedemikian rupa sehingga mampu mengontrol iklim mikro secara otomatis menggunakan mikrokontroller yang dapat disesuaikan dengan kondisi suatu wilayah dan suatu waktu yang diinginkan, atau sesuai kebutuhan data peneliti. Alat ini berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan AC untuk kontrol cuaca, LED untuk cahaya matahari buatan," terang Azam, Rabu (14/1/2020).

Sebuah rencana besar dimiliki Azam untuk lemari karyanya tersebut dengan menghubungkannya pada sistem penerima informasi iklim mikro dengan stasiun cuaca di berbagai wilayah di Indonesia.

Dengan menggunakan IoT, informasi tersebut akan secara otomatis terdeteksi oleh APAC yang kemudian akan menyesuaikan kondisi cuaca di dalam alat sesuai informasi yang diterima.

"Data dari stasiun cuaca akan dikirimkan ke server yang terhubung pada APAC dashboard untuk mengendalikan simulasi iklim mikro. Jika peneliti ingin membuat simulasi cuaca Kota Makassar tanggal dan waktu tertentu guna menumbuhkan suatu tanaman, maka peneliti hanya perlu mengakses stasiun cuaca di Kota Makassar pada tanggal dan waktu itu untuk mengaplikasikannya di dalam APAC," papar Azam.

APAC dapat membantu menekan biaya, waktu, dan energi yang dibutuhkan oleh peneliti bidang pertanian. Selain itu juga, tambah Azam, APAC membuka jalan bagi penelitian yang lebih luas.

"Jika selama ini peneliti terbatas dengan biaya dan waktu untuk meneliti dengan faktor yang mereka inginkan, setelah ada APAC ini penelitian tentunya akan lebih luas," ujar Azam yang alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu.

Penelitian APAC masih akan terus dikembangkan untuk mendapatkan sistem yang menyeluruh. Diantaranya dengan pencarian formula intensitas HP LED yang cocok untuk kebutuhan tanaman, stasiun cuaca yang akan digunakan untuk pengambil data iklim mikro dan dikirimkan ke database, serta aplikasi APAC dashboard untuk memonitor dan mengatur kondisi lingkungan iklim mikro APAC.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.