INFO TEKNOLOGI

Satu Orang Bisa Kendalikan Ratusan Ribu Bot, Mulai Dipakai di Pemilu 2009

Laporan Agung Hari Baskoro | Jumat, 13 Desember 2019 | 18:18 WIB
Ilustrasi.
suarasurabaya.net - Satu orang bisa mengendalikan hingga ratusan ribu akun bot (robot) di media sosial. Akun-akun ini dikendalikan untuk menciptakan citra tertentu di media sosial lewat sebuah program.

Bekti Cahyo Hidayanto Kepala Laboratorium Infrastruktur dan Keamanan Tekonogi Informasi ITS mengatakan, meski awalnya digunakan untuk motif ekonomi, akun bot mulai dipakai untuk motif politik sejak Pemilu 2009.

"Kalau untuk kepentingan politik, mulai rame sejak Pemilu 2009 ketika SBY terpilih untuk kedua kalinya. Tapi masih tarafnya aplikasi (program, red) belum sebaik sekarang. Sekarang sudah banyak," ujar Bekti kepada suarasurabaya.net pada Jumat (13/12/2019).

Ia menjelaskan, akun bot yang jumlahnya masif memang bisa mengendalikan opini orang di media maya. Awalnya, akun bot ramai dipakai di Twitter yang kemudian juga jamak ditemui di media sosial lain.


"Dia memfollow akun-akun lain dan menyebarkan info yang sudah dia desain. Entah menggiring opini, memasarkan produk, dan macem-macem. Dia bisa mengendalikan, mempengaurhi, influence pada orang-orang yang dikirimi gitu ya. Banyak sih modelnya robot-robot itu," jelasnya.

Keberadaan teknologi memprograman akun bot awalnya meniru teknologi DoS (Denial of Service). Di Indonesia, teknologi ini dikenal dengan istilah ngeDoS atau mematikan server orang lain.

"Caranya dengan membuat semacam komputer-komputer bersama-sama menyerang komputer server. Bisa sampai jutaan komputer, itu dikendalikan orang, dan meremote banyak komputer, orang yang punya tidak sadar. Teknokogi ini ditiru untuk kasus komunikasi, dia membuat akun media sosial," katanya.

Akun bot untuk motif ekonomi mulai ramai dipakai semenjak e commerce mewabah di Indonesia. Namun, sekarang, keberedaan akun bot sudah digunakan untuk banyak hal. Salah satunya politik, yang akhirnya mampu menggiring opini hingga menjatuhkan nama seseorang.

"Sekarang bisa dipakai untuk menjatuhkan orang, menggiring opini, membuat hoax, masif dilempar ke medaos sehingga orang dapat semua, ditambah tagar yang masif juga, sehingga complicated bot itu," tegasnya. (bas/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA