INFO TEKNOLOGI

Mijelsoap Sabun Berbahan Minyak Jelantah Besutan Mahasiswa Unair

Laporan Zumrotul Abidin | Minggu, 17 November 2019 | 21:16 WIB
Pelatihan membuat sabun dari bahan limbah minyak jelantah oleh 11 Mahasiswa Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Minggu (17/11/2019). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Puluhan ibu-ibu anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW. 04 Kelurahan Jagir, Kecamatan Wonokromo, Surabaya mendapatkan pelatihan membuat sabun dari bahan limbah minyak jelantah.

Bertempat di Balai RW 04, mereka mendapat pelatihan dari 11 Mahasiswa Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Minggu (17/11/2019).

Ahmad Wahyudin salah satu tim Magister Manajemen Angkatan 52 ini mengatakan, konsep pemberian pelatihan ini ada hubungannya dengan tema besar Surabaya Smart City. Sehingga, ide pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi salah satu pendukungnya. Salah satunya minyak jelantah yang bisa dimanfaatkan menjadi sabun.

"Karena idenya dari Magister Manajemen Unair, maka kami ingin memanfaatkan limbah jadi sabun kemudian sampai layak jual. Kami juga bikin brandingnya," kata Wahyudi kepada suarasurabaya.net.



Hasil jadi sabun Mijelsoap, sabun berbahan minyak jelantah karya Maahasiswa MM Unair. Foto: Abidin suarasurabaya.net

Wahyudin menjelaskan, proses pembuatan sabun memang membutuhkan minyak. Minyak jelantah meski sudah digunakan tetap ada kadar minyaknya. Minyak goreng setelah dipakai menggoreng dua kali, kadar minyaknya tinggal 25 persen.

"Kadar minyak yang tinghal 25 persen itu kemudian kami murnikan lagi pakai metode go green, yakni pakai buah Mengkudu dan Sabut Kelapa," kata Wahyudin.

Menurut Wahyudin, buah Mengkudu memang mampu mengikat zat di luar minyak, sehingga bisa menjadi endapan. Setelah kadar minyak mengendap, kalau disaring dengan kertas biasa masih kurang rapat. "Sabut kelapa lebih rapat. Sehingga dapat minyak murni lagi," katanya.

Wahyudin mengatakan, setelah minyak murni kembali, lalu ditambahkan KOH (soda api) atau caustic soda. Setelah itu, ditambahkan bahan yang bisa menimbulkan busa atau disebut Emal, dan ditambahkan bibit parfume secukupnya. Jadilah sabun batang.

"Kalau hanya sabun batang cuci tangan, cuci piring nilainya rendah, maka kami tambahkan decoupage (seni menghias dengan tisu). Kami hias dengan tisu warna warni. Kita lekatkan tisu itu sesuai keinginan desainnya," katanya.

Selain itu, kata Wahyudin, cetakan sabun batang ini juga bisa beragam bentuk seperti ikan dan sebagainya. Sabun yang diproduksi oleh ibu-ibu PKK ini kategori sabun rumah tangga (sabun cuci tangan dan cuci piring). Karena untuk sabun kosmetik, persyaratan izinnya lebih panjang dan susah.

Wahyudin mengatakan, produk sabun dari jelantah ini diberi nama MijelSoap (minyak jelantah jadi sabun). Produk yang ramah lingkungan ini diharapkan bisa mendorong kampung Jagir ini menjadi juara dalam ajang Smart City.

"Kampung ini sudah menjadi kampung hijau binaan Pertamina. Tahun ini juga masuk 10 besar nasional kategori Smart City. Kami usulkan, MijelSoap ini juga bagian dari produk mereka, tanggal 28 lomba lagi di Surabaya," katanya.

Dalam pelatihan pembuatan Mijelsoap ini, warga didampingi 11 mahasiswa Magister Manajemen Unair yakni Taruli Sondang, Dini Mulyani, dr Victor, Frentinidia, Sofia Septi Suryani, Christina, Ahmad Wahyudin, Muhammad Muslikh Firmansyah, Rachmad Sulthan Zhafirandy, Isnain Ardiansyah, dan Ruri Hudi Astuti Dewi Subroto.

"Kami juga didampingi ahli dari sabun pabrikan. Sehingga, benar-benar higienis produknya," katanya.

Sementara itu, Gancar Premananto Kepala Program Studi Magister Manajemen FEB Unair mengatakan, selama ini mahasiswa tidak hanya diberikan bekal pendidikan bisnis, namun juga menjadikan mahasiswa memiliki kepedulian dan inovasi dalam berkarya.

"Kami ingin mahasiswa MM FEB memiliki karya yang menginspirasi banyak orang," katanya. (bid/tin)
Editor: Ika Suryani Syarief



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.