INFO TEKNOLOGI

Lebih Bijak Saat Ikut-Ikutan #10yearschallange

Laporan Ika Suryani Syarief | Rabu, 16 Januari 2019 | 14:56 WIB
Ilustrasi.
suarasurabaya.net - Beberapa hari terakhir, warganet beramai-ramai mengikuti #10yearschallange di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter. Tantangan ini mengajak warganet mengunggah meme berisi foto wajahnya sendiri, saat ini dan sepuluh tahun yang lalu.

Nur Aini Rakhmawati dosen Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menilai tantangan semacam itu berpeluang disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Misalnya diedit untuk foto berbau pornografi, prostitusi, atau penipuan.

"Tidak ada masalah dengan challange ini, tapi foto yang kita unggah bisa saja disalahgunakan," katanya saat dihubungi suarasurabaya.net, Rabu (16/1/2019).

Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat untuk semakin bijak mengunggah foto close up diri sendiri atau orang lain ke media sosial. Nur Aini lantas menjelaskan langkah-langkah yang bisa dilakukan warganet awam untuk melindungi data pribadinya.


1. Kurangi mengunggah foto dengan resolusi terlalu tinggi
Jika ingin mengunggah foto, lebih baik foto yang beramai-ramai. Sebisa mungkin tidak perlu mengunggah foto anak-anak.

2. Mengunggah foto atau video dengan informasi seminim mungkin
Warganet bisa mengurangi atau menghilangkan EXIF foto sebelum mengunggahnya ke media sosial. Tidak penting mengumbar privasi sehingga semua orang tahu apa yang kita lakukan.

EXIF adalah format standar untuk berkas gambar, suara, dan tambahan lainnya yang digunakan oleh kamera digital (termasuk ponsel cerdas), pemindai, dan sistem lainnya yang terkait dengan perekaman gambar dan suara oleh kamera digital. Data yang tersimpan di antaranya tanggal dan jam saat foto dibuat, sampai posisi di mana foto diambil, jika kamera dilengkapi dengan GPS.

3. Challenge bukan hal yang sangat penting
Jika dirasa tidak terlalu penting, tidak perlu ikut-ikutan. Jika tertarik ikut, Nur Aini menyarankan untuk menggunakan foto jarak jauh untuk mengurangi bahaya penyalahgunaan teknologi pendeteksi wajah.

4. Data umum pengguna media sosial sudah pasti dijual
Saat ini, semua orang yang mengetahui cara menjaring data, bisa mengambil data umum pengguna media sosial. Penggunaannya antara lain untuk kepentingan penelitian non-profit maupun profit.

5. Pahami aturan hukum, risiko, dan potensi big data
Pengguna media sosial di Indonesia jumlahnya cukup besar. Sebagai pengguna aktif, lebih baik mencari tahu risiko yang mungkin terjadi jika mengunggah data pribadi. "Setelah saya tahu aturan hukum dan big data, jadi mikir sekali lagi sebelum posting. Status kita, termasuk data pribadi saat menyetujui ketentuan game dan polling--bisa dijual untuk kepentingan pengiklan," kat Nur Aini.

6. Dihapus atau diprivat
Jika telanjur mengunggah, pengguna media sosial bisa "melindungi" data pribadinya dengan menghapus unggahan atau mengedit peraturan privasinya menjadi terbatas untuk orang tertentu atau diri sendiri.

Sementara itu, cuitan Kate O'Neil penulis buku Tech Humanist di Twitter pribadinya terkait meme #10yearschallange, sempat ramai ditanggapi warganet. Dia juga menuangkan kekhawatirannya tentang peluang penggalian data pribadi warganet dengan alogaritma pemindai wajah melalui challange ini di media opini Wired.




Pada akhirnya, Kate mengajak warganet menuntut pelaku bisnis memperlakukan data pengguna media sosial dengan hormat. "Tetapi kita juga perlu semakin bijaksana dalam memperlakukan data kita sendiri," tulisnya.(iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA