INFO TEKNOLOGI

Simulasikan Konferensi PBB, Delegasi ITS Raih Juara di Jerman

Laporan J. Totok Sumarno | Rabu, 11 Juli 2018 | 15:58 WIB
Delegasi ITS saat berada di Jerman mengikuti laga Gottingen Model United Nation (GoMUN). Foto: Humas ITS Surabaya
suarasurabaya.net - Melalui Gottingen Model United Nation (GoMUN) di Jerman, delegasi mahasiswa ITS Surabaya tampil mensimulasikan konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan merebut Best Position Paper.

Campus of the Georg-August-University of Gottingen, Jerman ini menjadi saksi bisu kemenangan Agustinus Kurniawan Ady Sulistyo, satu diantara anggota delegasi ITS, dalam kategori Best Position Paper di GoMUN.

Mahasiswa ITS lainnya yang menjadi anggota delegasi di antaranya Zhafir Tri Setiabudi P (Teknik Perkapalan), Khalda Ardelia Yunus (Teknik Lingkungan), Lolita Agastya (Teknik Biomedik), Farah Qonita Syuhaila (Teknik Fisika), Fadilah Muhammad Abdurrahman (Teknik Kimia), dan Naufal Afif Prahasto (Teknik Material).

Tahun ini, badan PBB yang dikompetisikan dalam GoMUN di antaranya Disarmament and International Security Council (DISEC), Human Rights Council (UNHRC), United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), North Atlantic Treaty Organization (NATO), dan Futuristic Security Council as a Crisis Committee (UNSC).

"Terdapat delegasi ITS di masing-masing committe, saya sendiri berada di UNSC," terang Agustinus Kurniawan Ady Sulistyo yang akrab disapa Yoyok.

Di GoMUN, topik dari UNSC adalah European Separatist Movement, di mana gerakan separatis di Spanyol makin merajalela. Yoyok sebagai Security Council harus mempertimbangkan banyak cara agar mendapat solusi dari masalah tersebut.

"Saya sendiri berperan sebagai Emily Thornberry, Perdana Menteri United Kingdom (UK) pada saat itu," tambah Yoyok.

Sulitnya menjadi delegasi UK, menurut Yoyok, pada saat itu proses Brexit (Britain Exit) selesai dan perekonomian UK kurang bagus. Maka dari itu, Yoyok harus belajar dan melakukan riset lebih untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan stabilitas politik di UK supaya tidak terpengaruh dengan konflik separatis di Uni Eropa. Brexit sendiri merupakan peristiwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Saat diskusi, ada hal menarik yang dialami oleh Yoyok. "Karena saya memerankan karakter wanita jadi saya dipanggil Miss Thornberry, waktu ada delegasi yang nyebut nama saya di pidatonya, dia malah tertawa sampai waktunya habis," papar Yoyok.

Yoyok meraih Best Position Paper mengalahkan sekitar 130 peserta dari 14 negara berbeda. Dalam position paper, yang paling penting adalah cara pandang dan solusi diplomatis yang ditawarkan yang sesuai dengan negara masing-masing.

"Kebetulan solusi yang saya tawarkan hampir semua diimplementasikan sebagai solusi committee, jadi bisa jadi nilai tambah juga," kata Yoyok.

Soal hambatan, Yoyok mengingatkan bahwa sebaiknya sebagai mahasiswa bisa fleksibel. "Jangan ragu-ragu menambah nilai jual kita dengan menambahkan skill-skill baru secara tekun dan jangan takut mengambil kesempatan yang ada," pungkas Yoyok.(tok)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.